www.AlvinAdam.com

WARTA 24 PAPUA BARAT

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Oktovianus Maniani: Ke Mana Bakat Besarnya Sekarang?

Posted by On 17.20

Oktovianus Maniani: Ke Mana Bakat Besarnya Sekarang?

Malaysia sukses digilas dengan skor 5-1 pada laga pertama tim nasional Indonesia di ajang Piala AFF 2010 lalu. Kemunculan pemain seperti Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim jelas menyemarakkan skuat Garuda. Satu pemain naturalisasi asing dan satu lagi pemain keturunan menjaidkan lini serang Indonesia lebih bervariasi.

Namun, ada satu orang pemuda yang ikut ambil bagian dalam meramaikan panggung para debutan tersebut, ia adalah Otavianus Maniani, winger lincah asal Papua yang beroperasi di sayap kiri tim nasional Indonesia.

Memang, dari masa ke masa kita sudah tak aneh lagi disuguhi dengan talenta-talenta besar dari tanah mutiara hitam tersebut. Elie Aiboy dan Boaz Solossa contohnya. Kemunculan Okto â€" sapaan akrab Oktovianus Maniani jelas memperpa njang harapan bahwa talenta Papua akan bisa terus diandalkan untuk tim nasional seperti para pendahulunya.

Laga pertama saat mengganyang Malaysia, Okto memang tak ambil bagian sebagai pencetak gol dalam festival tersebut. Namun di laga kedua, Indonesia yang berhadapan dengan Laos akhirnya mampu menang setengah lusin tanpa balas. Saat itu, Okto pun ikut ambil bagian dengan mencetak gol ke gawang Laos di menit 82 atau gol keenam bagi Indonesia. Tak mengherankan, setelahnya nama Okto terus melejit.

Indonesia's Lost Boys

  • Syamsir Alam: Ke Mana Bakat Besarnya Sekarang?
  • Zulfiandi: Ke Mana Bakat Besarnya Sekarang ?

Pada masanya, Okto telah membuat para suporter Indonesia berbahagia, sekaligus juga menanamkan harapan. Begitulah tugas pemain level tim nasional; bekerja keras dan bermain totalitas untuk seragam merah putih yang mereka kenakan. Namun ternayata bagi Okto, dedikasinya terhadap tim nasional tak selalu diterjemahkan dengan baik oleh beberapa orang.

“Di Persiram, saya memang minta izin untuk membela timnas (diantaranya TC Piala AFF 2012), tapi saya tidak dikasih izin. Saya sudah tahu risikonya. Setelah saya ikut timnas, kemudian saya pulang ke Raja Ampat saya temui manajer, saya datang berdua dengan orang dari keluarga saya, saya datang baik-baik. Tapi saya diusir. Saya tahu saya punya kesalahan. Kena sanksi oke, saya salah. Pas saya pulang sudah putus kontrak,” ungkap Okto saat diwawancara oleh Goal Indonesia pada 2013 lalu.

Konflik sepakbola lokal (dualisme) dalam kurun waktu tersebut akhirnya menjadi titik balik kemunduran karier sepakbola Okto. Jika saja semua berjalan baik-baik saja, Okto mungkin saat itu tak perlu terlibat konflik kepentingan.

“Bagi saya ini pengalaman. Dan untuk pemain lain agar jangan seperti saya. Saya adalah contoh untuk pemain lain. Contoh bahwa ada risiko semisal dijelekin ke semua klub di ISL. Memang ada manajer yang mengerti, tapi ada juga manajer yang enggak mengerti. Untuk pemain lain saya serahkan ke diri masing-masing untuk pilihan mau atau tidak membela timnas. Paling tidak, mereka sudah tahu risiko seperti yang saya alami,” lanjutnya.

Penggalan kisah tersebut memang terdengar miris. Jika memang benar demikian, konflik sepakbola lokal (dualisme) dalam kurun waktu tersebut akhirnya menjadi titik balik kemunduran karier sepakbola Okto. Jika saja semua berjalan baik-baik saja, Okto mungkin saat itu tak perlu terlibat konflik kepentingan seperti ini. Padahal Okto hanya menunjukkan totalitasnya untuk tim nasional Garuda.

Pages

  • 1
  • 2
  • next ›
  • last »
Topics Persiba Balikpapan, Arema, Pusamania Borneo FCSumber: Google News | Warta 24 Raja Ampat

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »