Widhi, Penerbang Perempuan "Penantang" Ganasnya Medan Papua - Warta 24 Papua Barat
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}
www.uhamka.ac.id/reg

Widhi, Penerbang Perempuan "Penantang" Ganasnya Medan Papua

Widhi, Penerbang Perempuan "Penantang" Ganasnya Medan Papua

KOMPAS.com/BAMBANG P. JATMIKO Widhi Utami saat berada di Bandara Manokwari, Papua Barat, Kamis (21/12/2017).����������������������������������������������������…

Widhi, Penerbang Perempuan "Penantang" Ganasnya Medan Papua

Widhi Utami saat berada di Bandara Manokwari, Papua Barat, Kamis (21/12/2017).KOMPAS.com/BAMBANG P. JATMIKO Widhi Utami saat berada di Bandara Manokwari, Papua Barat, Kamis (21/12/2017).

MANOKWARI, KOMPAS.com - Bagi para pilot pesawat baling-baling, terbang di wilayah Papua membutuhkan nyali tersendiri. Cuaca yang kerap berubah cepat dan kontur medan bergunung-gunung, membutuhkan kecermatan dalam menerbangkan pesawat.

Dan, salah satu pilot yang bernyali terbang di Papua adalah Widhi Utami. Perempuan 26 tahun ini adalah salah satu dari empat penerbang perempuan yang bertugas di Papua.

Widhi bergabung d engan Demonim Air, sebuah maskapai perintis yang melayani rute pedalaman Papua. Dia menjadi first officer di maskapai tersebut sejak 2015. Saat ini, dia bertugas menerbangkan pesawat jenis Twin Otter dan bermarkas di Bandara Timika.

Pada Kamis (21/12/2017), Widhi baru saja mendarat di Bandara Manokwari setelah menerbangkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan rombongan, termasuk saya dari Bandara Nabire.

Di sela-sela istirahatnya, dia berkisah betapa menantang terbang di wilayah Papua.

"Cuaca di Papua memang ekstrim, cuaca berubah cepat. Tapi kami tetap punya standard untuk terbang," ujarnya saat berbincang dengan Kompas.com.

Menurut dia, ada banyak hal yang harus dilakukan sebagai pilot penerbangan perintis di Papua. Mulai dari teknis penerbangan, hingga persiapan kebutuhan pribadi jika menghadapi kondisi darurat.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan pilot penerbangan komersial yang terbang dari satu kota dan kota lain. Di mana, seluruh kru mendapatkan fasilitas sangat memadai dan bisa menginap di hotel.

Widhi Utami usai menerbangkan pesawat Twin Otter dari Nabire ke Manokwari, Kamis (21/12/2017).KOMPAS.com/BAMBANG P. JATMIKO Widhi Utami usai menerbangkan pesawat Twin Otter dari Nabire ke Manokwari, Kamis (21/12/2017).

Sementara untuk penerbangan perintis, para penerbang dan kru kerap menghadapi kondisi yang memaksa mereka harus menginap di lokasi terpencil karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk diterbangi.

"Jika terbang ke pedalaman, minimal harus menyiapkan baju yang cukup. Sewaktu-waktu harus menginap di pedalaman, kami siap," lanjut Widhi.

Meninggalkan Kenyamanan

Menjadi pilot merupakan cita-cita Widhi sejak kecil. Bahkan dia rela meninggalkan zona nyamanan untuk menggapai mimpinya sebagai penerbang.

Sebelum menjadi pilot, Widh i adalah seorang pramugari di Garuda Indonesia untuk rute penerbangan internasional.

Begitu lulus dari SMA di Bali pada 2009, dia melamar menjadi pramugari di Garuda. Dan, akhirnya diterima.

Widhi menikmati banyak fasilitas saat terbang ke kota-kota besar di luar negeri. Lainnya, dia juga mendapatkan penghasilan di atas rata-rata.

"Bukannya jadi pramugari di Garuda Indonesia sudah sangat nyaman?" tanya saya.

"Nyaman, dan bahkan sangat nyaman," sahut dia.

Tapi itu bukan cita-citanya.

"Kenapa sempat melamar jadi pramugari?" tanya saya lagi.

"Saya mengumpulkan dana untuk sekolah pilot. Hingga uang terkumpul, saya keluar dari Garuda dan melanjutkan ke sekolah penerbangan," kata dia.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sesaat akan terbang menggunakan pesawat Twin Otter yang diop   erasikan Demonim Air dari Bandara Timika ke Nabire Papua, Rabu (20/12/2017).KOMPAS.com/BAMBANG P. JATMIKO Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sesaat akan terbang menggunakan pesawat Twin Otter yang dioperasikan Demonim Air dari Bandara Timika ke Nabire Papua, Rabu (20/12/2017).

Pada 2013, Widhi mulai masuk ke sekolah penerbangan. Untuk masuk sekolah ini, butuh biaya yang tidak sedikit, yakni sekitar Rp 600 juta.

Uang hasil kerja sebagai pramugari, dia gunakan untuk membiayai sekolah penerbangan tersebut.

Selama sekitar 1,5 tahun, dia belajar menjadi penerbang di sekolah penerbangan yang berada di daerah Curug, Tangerang Banten.

Kemudian pada 2015, Widhi bergabung dengan Demonim Air untuk melayani penerbangan masyarakat Papua.

Sebagai salah satu penerbang perempuan di rute perintis di Papua, Widhi sangat bangga.

Tak hanya sebatas bisa mencapai cita-cita sebagai pilot, namun juga bisa turut membantu masyarakat Papua mendapatkan akses transpor tasi yang lebih baik guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka.

Berita Terkait

Tekan Harga Barang di Pedalaman Papua, Pemerintah Kembangkan Pelabuhan dan Bandara di Nabire

Jelang Natal, Jumlah Penumpang Pesawat di Bandara Hasanuddin Naik

Bangun Bandara di Sukabumi, Jokowi Rahasiakan Lokasinya

Terkini Lainnya

Widhi, Penerbang Perempuan 'Penantang' Ganasnya Medan Papua

Widhi, Penerbang Perempuan "Penantang" Ganasnya Medan Papua

Inspirasi 22/12/2017, 15:24 WIB Masih Rugi Besar, Garuda Diminta Menteri Rini Lakukan Pembenahan

Masih Rugi Besar, Garuda Diminta Menteri Rini Lakukan Pembenahan

Makro 22/12/2017, 15:13 WIB Perlu 22 Tahun Bagi Indonesia untuk Dapat Kenaikan Rating Fitch

Perlu 22 Tahun B agi Indonesia untuk Dapat Kenaikan Rating Fitch

Makro 22/12/2017, 15:02 WIB Menko Luhut Tegaskan Bali Aman, Pertemuan IMF-World Bank Tak Terganggu

Menko Luhut Tegaskan Bali Aman, Pertemuan IMF-World Bank Tak Terganggu

Makro 22/12/2017, 15:02 WIB Pesawat Delay Berjam-jam, Ini Penjelasan Garuda Indonesia

Pesawat Delay Berjam-jam, Ini Penjelasan Garuda Indonesia

Bisnis 22/12/2017, 14:52 WIB Jangan Biarkan Hutan Jadi Kenangan!

Jangan Biarkan Hutan Jadi Kenangan!

BrandzView 22/12/2017, 14:09 WIB Pengelolaan Bandara Banyuwangi Harus Lebih Profesional

Pengelolaan Bandara Banyuwangi Harus Lebih Profesional

Makro 22/12/2017, 13:46 WIB Anak Usaha Pelindo II Melantai di Bursa Efek Indonesia

Anak Usaha Pelindo II Melantai di Bursa Efek Indonesia

Makro 22/12/2017, 13:09 WIB 10 Fakta dari Google tentang Populasi Digital di Indonesia dan Dunia

10 Fakta dari Google tentang Populasi Digital di Indonesia dan Dunia

Makro 22/12/2017, 13:04 WIB Dalam 6 Bulan, Inflasi Venezuela Tembus 7.000 Persen

Dalam 6 Bulan, Inflasi Venezuela Tembus 7.000 Persen

Makro 22/12/2017, 13:00 WIB Sebuah Kafe di Singapura Hanya Terima Pembayaran Nontunai dan Bitcoin

Sebuah Kafe di Singapura Hanya Terima Pembayaran Nontunai dan Bitcoin

Keuangan 22/12/2017, 12:50 WIB Setahun, OJK Malang Terima 328 Aduan Keuangan

Setahun, OJK Malang Terima 328 Aduan Keuangan

Keuangan 22/12/2017, 12:43 WIB Survei: Bitcoin Investasi Paling 'Gaduh' di Dunia

Survei: Bitcoin Investasi Paling "Gaduh" di Dunia

Keuangan 22/12/2017, 12:02 WIB Perguruan Tinggi Didorong Ikut Kembangkan Ekspor

Perguruan Tinggi Didorong Ikut Kembangkan Ekspor

Bisnis 22/12/2017, 11:30 WIB Menteri Susi: Yang Hari Ini Enggak Ingat Ibunya, Tenggelamkan!

Menteri Susi: Yang Hari Ini Enggak Ingat Ibunya, Tenggelamkan!

Inspirasi 22/12/2017, 10:49 WIB Load MoreSumber: Google News | Warta 24 Manokwari

Tidak ada komentar