Wisata sehat ke Giliyang yang bebas polusi - Warta 24 Papua Barat
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Wisata sehat ke Giliyang yang bebas polusi

Wisata sehat ke Giliyang yang bebas polusi

UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL …

Wisata sehat ke Giliyang yang bebas polusi

UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL
Suasana pantai di Gili Iyang, Sumenep.
Suasana pantai di Gili Iyang, Sumenep.
© Pemkab Sumenep /Twitter

Kabupaten Sumenep di ujung timur Pulau Madura, Jawa Timur, baru saja meluncurkan kalender wisata dan visit Sumenep 2018. Di dalamnya tercakup 39 event, yang bertujuan mengembangkan pariwisata Sumenep sekaligus menarik pelancong, khususnya mancanegara.

Meski belum banyak terekspos secara lokal, Kabupaten berslogan 'Soul of Madura' ini ternyata kaya destinasi sejarah, budaya, juga pesona alam yang telah mendunia. Bahkan, data menunjukkan jumlah kunjungan pelancong asing ke sana meningkat signifikan tiap tahun.

Salah satu yang jadi incaran, adalah pulau kecil di Madura yang terletak di Kecamatan Dungkek, yakni Gili Iyang atau disebut juga Giliyang.

Pulau ini sedang gencar dipromosikan dan dikembangkan sebagai ikon pariwisata andalan Sumenep. Potensi utamanya yaitu destinasi wisata kesehatan yang telah ditetapkan sejak 2015.

Pasalnya, pulau yang bernama lain "pulau oksigen" tersebut merupakan kawasan geowisata dengan kadar oksigen tertinggi kedua di dunia setelah Yordania. Kandungan karbondioksida di pulau ini pun ditemukan paling rendah.

Berdasarkan hasil penelitian Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pada 2006, kadar oksigen di Gili Iyang berkisar 3,4-4,8 persen di atas normal.

Penelitian serupa dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumenep pada 2016. Hasilnya, kandungan oksigen Giliyang ditemukan 21,5 persen atau lebih tin ggi dari wilayah lain yang umumnya cuma sekitar 20 persen.

Sebab itulah, pulau yang juga dikenal sebagai "pulau awet muda" ini tercatat memiliki warga yang panjang umur dengan kondisi bugar.

"Ada 157 orang di atas 100 dan sehat karena oksigennya," papar Bupati Sumenep, KH Busyro Karim dikutip detikTravel.

Pulau dengan luas 921,2 hektare itu dihuni oleh 9.185 jiwa yang menyebar di dua desa, yaitu Bancamara dan Banra'as.

Sebagai bukti, Viva.co.id pada 2016 pernah bertandang ke Giliyang dan menjumpai sebuah keluarga yang terdiri dari 5 generasi. Generasi pertama yaitu Milati yang kala itu berusia 115 tahun. Meski pendengarannya berkurang akibat usia lanjut, Milati masih lantang dan fasih saat berbicara.

"Kaule gik sughek, keng ngangguy tongket (Saya masih sehat, tapi berjalan pakai tongkat)," ujarnya.

Putri Milati, Munadiyah, bahkan lebih bugar. Di usianya yang telah seabad, ia justru tampak lebih muda. Bahkan, Mu nadiyah masih mampu berjalan dan beraktivitas sehari-hari tanpa menggunakan tongkat.

"Sabbhen are kaule ajuel jukok (setiap hari saya jualan ikan)," ucapnya.

Tak heran, banyak sudah pelancong lokal dan mancanegara, khususnya dari Tiongkok yang menjajal Pulau Giliyang untuk berobat lewat terapi oksigen dari alam.

Maklum, saat ini udara bersih menjadi sesuatu yang mahal. Padahal, wilayah bebas polusi menentukan kesehatan seseorang. Berdasarkan riset, polusi udara, suara dan lingkungan menyebabkan 16 persen kematian di seluruh dunia.

Untuk itu, LAPAN pernah berpesan agar tiap pengembangan Giliyang perlu melalui pertimbangan khusus, supaya tidak terganggu dan tercemar kadar oksigennya.

Menyoal kecantikan alamnya, menukil situs resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kondisi pantai pulau Giliyang sepintas memiliki tipologi yang serupa dengan kepulauan di Raja Ampat. Selain itu, pulau ini didominasi pantai karang dan tebing karang tinggi nan indah.

Untuk wisata tebing, Anda bisa berkunjung ke Batu Kundang atau tebing batu di bagian Timur pulau. Ada pula wisata gua yang berisi sumber air dengan batuan berkilau. Sebanyak tujuh gua ada di Desa Banra'as dan tiga gua di Desa Bancamara. Sayang, keindahan bawah lautnya belum dieksplorasi.

Secara menyeluruh, lokasi ini cocok disambangi bersama keluarga, atau Anda yang ingin menyepi dan mendapat ketenangan, sekaligus terapi.

Peningkatan sejumlah infrastrukturnya pun menunjukkan perbaikan. Sebelumnya, Giliyang minim air bersih dan penerangan. Namun, terhitung sejak November 2017, pembangkit listrik bermesin diesel telah beroperasi. Pun kendala air payau kini hanya ditemukan di sejumlah lokasi terpencil.

Bahkan, pada 2020 nanti rencananya akan ada larangan beroperasi bagi kendaraan bermotor, baik itu warga setempat atau pelancong yang berkunjung, agar tak menimbulkan polusi. Sebagai gantinya, akan diadakan motor listrik secara masal d i pulau tersebut.

Untuk mencapai Pulau Giliyang, Anda yang melancong bisa melalui Pelabuhan Dungkek dari Kota Sumenep, dengan menumpang angkutan umum bertarif Rp20 ribu per orang. Dari Pelabuhan Dungkek, tersedia kapal nelayan bertarif Rp15 ribu per orang. Jika bersama rombongan, bisa menyewa perahu sekitar Rp200-500 ribu. Total lama perjalanan sekitar 1,5 jam.

Meski tak ada penginapan macam hotel, pun kuliner khas, penduduknya yang terkenal ramah menyediakan rumahnya sebagai tempat bermalam bagi pelancong, termasuk sarapan dan sebagainya.

Selain itu, ada juga homestay (rumah singgah). Namun, karena pengelolaannya belum jelas, harga sewa tidak ditarif. Banyak pelancong yang membayar alakadarnya sehingga perawatan tempat kurang baik. Oleh karena itu, bila Anda berkunjung, membayarlah secara layak.

Sumber: Google News | Warta 24 Raja Ampat

Tidak ada komentar