Tuntutlah kejantanan hingga ke Pegunungan Arfak - Warta 24 Papua Barat
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Tuntutlah kejantanan hingga ke Pegunungan Arfak

Tuntutlah kejantanan hingga ke Pegunungan Arfak

"Khasiat kayu akway sebagai obat kuat cuma ramai buat anak-anak muda," kata Hans Mandacan, 35 tahun, warga Kampung Kwau, Distrik Minyambouw, Kabupaten Manokwari, Papua Bara…

Tuntutlah kejantanan hingga ke Pegunungan Arfak

"Khasiat kayu akway sebagai obat kuat cuma ramai buat anak-anak muda," kata Hans Mandacan, 35 tahun, warga Kampung Kwau, Distrik Minyambouw, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Jumat (12/1/2018).

Audiens Hans beberapa. Seorang di antaranya, Bitikwau, 'dokter lokal' Kwau. Dalam bahasa Hatam, suku yang menaungi mereka, tabib seperti Bitikwau dijuluki ndakan.

Sebelum Hans menyumbang suara, Bitikwau sudah lebih dulu bicara mengenai keampuhan Drimys sp., nama latin tumbuhan akway. Menurutnya, orang Kwau lazim memanfaatkan kayu itu untuk kondisi-kondisi khusus.

"Sesuai dengan pengalaman sedikit, pertama, bagi perempuan yang tidak mau dapat bayi, dia minum itu supaya mandul. Kedua, orang yang mengalami lutut sakit setiap hari. Orang tua di sini rata-rata tidak makan ayam potong, karena kalau mereka makan, lutut sakit. Kayu akway bisa menghilangkan lutut sakit. Ketiga, unt uk menghilangkan segala cacing dalam tubuh manusia," kata Bitikwau.

Pria bermarga Ondow itu berusia 69. Dia cuma cakap berkomunikasi dalam bahasa Hatam. Keterangannya terangkum dalam bahasa Indonesia lewat perantaraan Hans.

Namun, Hans, Bitikwau, maupun beberapa orang Kwau yang turut berhimpun pada hari itu menggeleng saat Beritagar.id menanyakan muasal kisah yang menyinggung faedah akway sebagai obat kuat. Tak pula di antara mereka pernah mendengar cerita tentang seorang kepala suku beristri banyak yang digdaya di ranjang karena mengonsumsi akway.

"Seperti saya bilang tadi," ujar Hans, "yang gunakan kayu akway untuk satu hal itu (seks) cuma orang muda saja. Mereka punya pengetahuan lain (dari orang tua)".

Coba tengok satu atau dua lapak pada situs-situs dagang di internet seperti Tokopedia dan Bukalapak. Mereka menjual kayu akway dengan cap 'jamu kuat' atau 'terapi vitalitas pria'. Ada pula pedagang yang pada la bel produknya menerakan khasiat seperti Bitikwau bilang, yakni untuk penyakit persendian.

Rata-rata penjual menawarkan stok kulit/kayu kering. Gaya demikan berlaku pula di beberapa toko di Pasar Wosi, Manokwari, Papua Barat. Dan para pedagang itu biasanya tak cuma sedia akway, tapi juga tanaman berkhasiat obat lain.

Haji Laena contoh pemilik kios yang menjalani praktik demikian. Selain memasarkan kayu akway, dia punya stok rumput kebar dan sarang semut, untuk menyebut beberapa komoditas.

Rumput kebar diyakini bermanfaat untuk pasangan suami-istri yang berhasrat memiliki anak. Kebanyakan orang meyakini sarang semut dapat menyembuhkan kanker.

Lamboh (kiri) membopong potongan kayu akway yang ditebas dari puncak Gunung Kungoi, Distrik Minyambouw, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Kamis (11/1/2018). Gambar kanan, kelupasan kulit    akway.
Lamboh (kiri) membopong potongan kayu akway yang ditebas dari puncak Gunung Kungoi, Distrik Minyambouw, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Kamis (11/1/2018). Gambar kanan, kelupasan kulit akway.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Saya dan fotografer, Wisnu Agung, menemui Haji Laena di rumahnya--berlokasi sekitar 50 meter dari Pasar Wosi--karena tokonya di pasar sudah tutup. Kami sempat kelimpungan ketika mencari alamatnya berkat keterangan berlarat-larat dari seorang pedagang yang kiosnya bertetangga dengan lapak Haji Laena.

Pelang tripleks bertulisan 'rumah dijual' tergantung di pagar kediamannya. Saat kami masuk, dia sedang bersiap sembahyang magrib. Tapi, dia tak berkeberatan membuka transaksi.

"Terakhir ada orang dari Bali beli kayu akway 10 kg. Sebelum dia, ada juga dari Sorong beli 3 kg," kata pria asal Baubau, Sulawesi Tenggara, Sabtu (13/1/20 18).

Per kilogram kayu akway kering dijajakan Rp250 ribu. Setelah tawar-menawar, harga hanya turun Rp50 ribu. "Saya dapat dari orang Arfak," katanya.

Beberapa tukang bangunan di Papua Lorikeet Guest House--kompleks penginapan kelolaan Hans--mengaku sempat mencicip rebusan kayu akway ketika di Manokwari. Setelah menenggaknya, mereka kena banjir keringat, selain rasa ringan di badan. Tapi semasa di Arfak, mereka malah belum pernah mencoba godokan akway.

Saya tak mengalami efek berkeringat seperti tersebut saat meminum rebusan akway di Pegunungan Arfak, di Manokwari, maupun di Jakarta.

"Jangan pernah om minum itu kalau masih siang, bisa bahaya," kata Hans di pelataran Papua Lorikeet sambil membuat isyarat cabul. Hans bilang orang Kwau tidak menjual akway. Dia bilang mereka biasa meminum rebusan secara rutin pagi dan sore masing-masing sesendok. Hans pun sudi kasih garansi kalau konsumsi rebusan kulit akway secara teratur sanggup bikin kehi dupan seksual membara.

Lamboh saat akan memangkas pohon akway di Gunung Kungoi, Kamis (11/1/2018).
Lamboh saat akan memangkas pohon akway di Gunung Kungoi, Kamis (11/1/2018).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Tapi, menurutnya, takaran reguler dua sendok sehari itu sesungguhnya hanya dimaksudkan warga setempat untuk menjaga stamina menyusul kebiasaan berjalan jauh.

Elda Kristiani Paisey, dosen Fakultas Pertanian Universitas Papua, pernah meneliti kandungan kayu akway sebagai pendongkrak berahi. Hasil risetnya mudah ditemukan di internet. Judulnya, Kajian Morfologi dan Kimia Kayu Akway Sebagai Afrodisiak Endemik Papua. Karya itu terbit sebagai tesis pascasarjana di Institut Pertanian Bogor pada 2008.

Dalam ringkasan penelitian dia menuli s: "Hasil analisis kimia kandungan kayu akway memberikan dukungan ilmiah kepada pengetahuan tradisional masyarakat suku Arfak...Terdapat senyawa-senyawa untuk meningkatkan hormon pria seperti stigmasterol, -sitosterol, phenanthrene, 9,10-dimethyl...Kayu akway merah besar memiliki jumlah komponen kimia peningkat stamina dan seksual yang lebih tinggi dibandingkan dengan spesies lainnya".

Ketika Hans ditanya mengenai itu, dia menjawab tidak tahu. Tapi, dia menginsafi akway terdiri dari beberapa jenis dan tumbuh di ketinggian-ketinggian tertentu.

"Nanti om bisa lihat di puncak Kungoi tumbuh yang (berdaun) kecil, di bawahnya agak sedang, saya punya di penginapan sini yang besar," ujar Hans.

Proses mengupas kulit kayu akway. Kulit itu bisa dikeringkan dulu sebelum direbus, atau digodok dalam keadaan segar.
Proses mengupas kulit kayu akway. Kulit itu bisa dikeringkan dulu sebelum direbus, atau digodok dalam keadaan segar.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Gunung Kungoi berbatasan dengan Papua Lorikeet. Ketinggian puncaknya sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut (DPL). Ia masuk kawasan Cagar Alam Pegunungan Arfak. "Saya pernah dapat tamu dari Singapura bawa alat (pengukur ketinggian), dan dia bilang tinggi segitu," kata Hans yang berprofesi sebagai pemandu ekowisata di Kampung Kwau. "Dan itu puncak Gunung Arfak," katanya sembari mengacungkan dagu ke dahi gunung sebelah.

Titik tertinggi di Arfak, 2.955 meter DPL.

Dalam tulisan Elda Kristiani terbaca bahwa pohon akway tumbuh di ketinggian 1.200 meter DPL, 1.600 meter DPL, 2.000 meter DPL, dan 2.400 meter DPL. Ketinggian disebut terakhir tergolong hutan primer yang ketinggian humusnya sekitar 1 meter.

Suhu rat a-rata tempat berkembangnya 18,5 derajat Celsius.

Pada Kamis (11/1), Hans dan adiknya, Lamboh, menjadi penunjuk jalan kami untuk mengambil sampel kayu akway dari Kungoi. Kami berangkat pukul 6.30 pagi. "Setelah ngopi-ngopi, kita naik-naik," ujar Hans.

Sebelum memasuki rimba, saya memandangi pohon-pohon terluar yang teguh membentuk barisan. Saya merasa sebagai kurcaci di hadapan pilar-pilar agung Khazad-dum.

Kerapatan pohon menguapkan hawa sejuk tak pilih kasih. Tentakel matahari merayapi kanopi dedaunan demi hasrat melumpuhkan dingin, tapi sia-sia. Kehangatan cuma muncul dari kalori terbakar di badan.

Tingkat kemiringan tanah beragam: 30 derajat, 45 derajat, atau bahkan lebih. Sepanjang jalan yang kami injak cuma tumpukan daun-daun gugur, koloni lumut, batang pohon lapuk, tanpa batu-batu. Hans sesekali berhenti untuk menunjukkan tanaman perdu berkhasiat obat. Cericit burung tak berjeda.

"Kalau om lihat daun ini," uja r Hans sembari tangannya memegang sejenis semak, "dia biasa diambil orang-orang tua untuk jimat." Seturut penuturannya, jika hendak bepergian orang-orang lama Kwau bakal mengambil daun itu, menyimpannya di rumah, dan membakarnya sebelum berangkat.

Setengah jam setelah meloloskan diri kian ke tengah alas, gambar baru menyembul. Pohon-pohon membesar, pohon-pohon yang tubuhnya terbalut lumut. Kelindan akar dan pelbagai organisme mati membentuk jembatan pejal tempat kami melafalkan langkah kaki. Tanah didominasi kemiringan di atas 40 derajat. "Saya pernah guide kakek-nenek ke puncak. Lama sekali," kata Hans.

Hans Mandacan berada di tenda kompleks penginapan Papua Lorikeet yang biasa dipakai sebagai dapur. Kulit kayu akway (kanan) dimasak di tenda yang sama.
Hans Mandacan berada di tenda kom pleks penginapan Papua Lorikeet yang biasa dipakai sebagai dapur. Kulit kayu akway (kanan) dimasak di tenda yang sama.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Saya lantas membayangkan akway kering di Pasar Wosi, yang sudah terikat sebagai paket, atau masih disembunyikan dalam karung; produk yang berpindah tangan tanpa menyisakan kisah mengenai tempat ia tumbuh, atau bagaimana dia dicerabut dari rumahnya. Tapi, sebuah kelokan tajam membuyarkan lamunan. Kungoi menampakkan puncaknya.

"Kita jalan sedikit ke situ," kata Hans. Telunjuknya menyeberangi pulau penuh tumbuhan mirip putri malu ke arah benteng hijau. "Seharusnya di sini terbentuk danau. Kata orang-orang tua di situ dulu banyak air," ujarnya tentang gambut di hadapan kami.

Di balik benteng hijau yang tadi kami saksikan, batang pepohonan tak menampakkan warna aslinya, begitu pula lantai hutan. Semua bertabir lumut. Hawa teramat basah, s eperti berada di ruangan tanpa jendela yang tak pernah terpapar cahaya matahari.

Dalam selubung lumut itu, akway hidup, tanpa lagak. Tingginya sekitar tiga meter. Ia perdu yang bernaung pada tumbuhan lain di hutan primer, tulis Elda Kristiani.

"Silakan coba," kata Hans, menoreh kulit pohon itu dan mengiris jadi dua. Dia mengangsurkan keratan kulit kayu kepada saya dan Wisnu. Bau organik itu meniru aroma daun jambu muda, tapi lebih tajam. Setelah dicecap, ada rasa kuat aneka rempah seperti pala dan lada serta tusukan instan seperti wasabi di pangkal lidah, nyaris menembus hidung.

Antologi rasa itu enggan raib bahkan setelah lebih dari 10 menit. Saat minum untuk membasuh after-taste sebegitu, air yang saya teguk pun tertular rasa ganjil.

Kami masih mengurut nafas saat Lamboh mulai menebang sebatang akway. Perjalanan ke puncak makan waktu 2,5 jam. Tak sampai 15 menit menilik lokasi tanaman itu tumbuh subur, kami kembali bergerak. Kali ini turun.

Betapa ironis! Upaya mendapatkan pendongkrak stamina di puncak Arfak justru mesti disokong fisik kuat. "Kita sekarang ambil yang sedang, agak di bawah," ujar Hans sambil matanya mencari-cari di kejauhan, ke pucuk-pucuk pohon. Di satu titik, pandangannya berhenti. "Besar sekali itu sarang semut," katanya, memegang teropong.

Perjalanan turun tak kalah menantang. Setapak melabrak akar-akar berlumut. Jika kaki tak berhati-hati, tubuh bisa tersungkur. Jejak-jejak dampak siklon tropis Dahlia pada awal Desember 2017 masih terhampar. Batang pohon berdiameter sekitar semeter menindih semak belukar. Cecabang dan reranting besar menutupi jalan.

Setelah tiba di penginapan, Hans meminta Lamboh untuk langsung menguliti kayu akway. Kelupasan kayu itu lantas dimasukkan ke belanga untuk direbus. Hujan mulai jatuh, yang seturut keterangan Hans jadi pembuka musim hujan beberapa bulan ke depan. Sejam terlewat, dua gelas rebusan kulit akway tiba di hadapan ka mi.

Rasanya tidak jauh berbeda dari versi mentah yang kami kunyah ketika di puncak barusan. Hanya saja, rebusan kulit akway jauh lebih tajam di lidah--lebih pedis, kalau kata Hans. Ketajamannya ternyata juga terasa di lambung, hal yang memancing rasa mual. Pun begitu, isi gelas keruan tandas.

Menjelang waktu makan malam, Hans memeriksa gelas-gelas kami dan bertanya, "om habiskan itu?" Kami mengangguk. Dia tertawa. "Tidak apa," dia bilang, "besok kita bikin lagi. Siap-siap saja".

Bonardo Maulana Wahono Bonardo Maulana Wahono

BACA JUGA

  • Legenda kayu perkasa Bolong Sanrego Legenda kayu perkasa Bolong Sanrego
  • Tuah viagra Dusun Sikunang Tuah viagra Dusun Sikunang
  • Pembangkit stamina dari hutan Kalimantan Pembangkit stamina dari hutan Kalimantan
  • Serbuk rahasia pengu   at syahwat Serbuk rahasia penguat syahwat
  • Tiga ramuan dan tiupan doa Mak Erot Tiga ramuan dan tiupan doa Mak Erot
  • Tongkat wasiat dan iming-iming berangkat haji orang Korea Tongkat wasiat dan iming-iming berangkat haji orang Korea
  • Khasiat tersembunyi ramuan Pakualaman Kh asiat tersembunyi ramuan Pakualaman
  • Pohon kaum lelaki di Tanah Karo Pohon kaum lelaki di Tanah Karo
  • Jaya Suprana: Jamu mencegah penyakit, bukan mengobati Jaya Suprana: Jamu mencegah penyakit, bukan mengobati
  • Indonesia dan tradisi makanan obat Indonesia dan tradisi makanan obat
  • "Patukannya laksana ular galak"
Sumber: Google News | Warta 24 Pegunungan Arfak

Tidak ada komentar