WARTA 24 PAPUA BARAT

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Tangan ajaib di kaki Pegunungan Arfak

Posted by On 12.13

Tangan ajaib di kaki Pegunungan Arfak

Keterangan Gambar : Bitikwau Ondouw, tabib dari Kampung Kwau, Pegunungan Arfak, yang oleh warga lokal dijuluki 'dokter lokal' atau ndakan. © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Tangan Bitikwau seperti mendapatkan karunia ilahi. Tak satu pun anggota keluarga besarnya punya kecakapan sepertinya.

Tiga puluh sembilan tahun hidup dengan tangan yang sanggup memindai penyakit, Bitikwau Ondow masih belum mengerti bagaimana keajaiban bisa terbit di jari-jarinya.

Seseorang menyambangi rumahnya pada suatu hari yang berkabut di Kampung Kwau, Distrik Minyambouw, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, demi mengeluhkan sakit di seluruh tubuh.

Usia Bitikwau saa t itu 30. Di tengah keterkejutan, dia serta-merta meminta tamunya berbaring.

"Saya langsung raba-raba perutnya. Setelah itu, saya kasih tahu dia untuk cari beberapa tanaman sebagai obatnya," kata Bitikwau kepada Beritagar.id, Jumat (12/1), di dekat kediamannya di Kampung Kwau.

Tamu itu--layak dicap sebagai pasien pertama--tak ragu menerima 'resep' dari Bitikwau. Resep itu pun dia tebus di sembarang apotek hidup di sekitar kampung. Tanpa prasangka, dia menenggak ramuan dari aneka tanaman itu. Kali kedua si tamu datang ke rumah Bitikwau, dia bercerita nyeri di badannya sudah pergi.

Kabar lantas menyebar bahwa seorang dokter lokal istimewa telah hadir di tengah masyarakat Kwau. Para warga yang girang segera menjuluki kecakapan khusus Bitikwau, ilmu raba-raba.

Kehadiran orang sepertinya di kampung dilingkari gunung dan rimba itu sungguh berarti. Sebab, dalam urusan pelayanan kesehatan, orang Kwau tak memiliki privilese sebagai halnya pendud uk yang tinggal di kota seperti Manokwari.

Mereka--hidup di tengah hutan pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut (DPL)--terisolasi. Empat sisi mata angin cuma diisi pepohonan dan kontur tanah khas pegunungan. Bahkan dari Syoubri, sebuah desa terkenal di tepi jalan raya, kira-kira butuh 45 menit berjalan kaki.

Bukan perkara mudah untuk ke puskesmas kecamatan di Minyambouw atau rumah sakit daerah di Manokwari. Akses buruk atas layanan transportasi menebalkan masalah. Hingga kini, satu-satunya moda transportasi layak untuk mengarungi jalan belum beraspal adalah mobil dobel gardan yang ongkosnya tak murah.

"Saya melayani siapa pun yang datang untuk berobat, dari masyarakat Kampung Kwau, dari distrik lain, dari kota lain," kata Bitikwau lewat alih bahasa yang dilakukan Hans Mandacan, seorang pemandu lokal.

Reputasi Bitikwau sebagai 'dokter lokal' pun meroket. Ketenaran melekat kepadanya sebagian berkat sistem getok-tular yang berg erak seperti kabut Arfak: pelan, pasti.

"Orang berobat pertama, dia akan siarkan ke orang lain. 'Kalau kena penyakit anu, silakan ke dokter lokal di Kampung Kwau," demikian penjelasan Bitikwau mengenai metode kampanye dari mulut ke mulut.

Bitikwau menunjukkan ilmu raba-raba yang menjadi spesialisasinya, Jumat (12/1/2018), di Kampung Kwau, Distrik Minyambouw, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Bitikwau menunjukkan ilmu raba-raba yang menjadi spesialisasinya, Jumat (12/1/2018), di Kampung Kwau, Distrik Minyambouw, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Ilmu raba-raba jadi inovasi dalam teknik diagnosis tradisional penyakit di Kwau. Faedahnya bermata dua. Bagi Bitikwau, akurasi memprediksi penyakit semak in tinggi. Selain itu, pasien-pasiennya pun dapat beroleh resep lebih jitu.

"Kalau dia bilang harus cari tanaman di puncak gunung, atau ambil air laut, itu harus dilaksanakan," kata Hans mengenai cara kerja Bitikwau. "Orang juga harus jujur".

Bitikwau pun menjelaskan maksud tuntutan untuk berlaku jujur. Dia memberi contoh kasus pasiennya yang terjerat rima-rima, nama setempat untuk HIV/AIDS.

"Dia (pasien) pertama sekali harus jujur melaporkan dengan siapa berzina. Setelah itu baru bisa dirawat dengan obat tradisional," kata Bitikwau. Padahal, kata Hans, Bitikwau bukan tidak tahu jika pasiennya sudah melakukan hubungan gelap di luar kampung. "Kebanyakan masyarakat di sini jadi takut untuk datang karena Bitikwau pasti tahu sudah terjadi perzinahan," kata Hans.

Di Papua Barat, prevalensi HIV/AIDS lebih rendah dari Papua. Namun, kesepakatan seksual--dan ujung-ujungnya jalan penularan penyakit--tak pilih medan. S i dukun lokal akhirnya tak sekali-dua terima pasien mengidap rima-rima.

"Kalau zaman dulu, penyakit saya cari tahu untuk beberapa masyarakat, racun Arfak yang paling banyak. Tapi, kalau sekarang rima-rima," ujar Bitikwau. "Kalau dia (pasien) sudah menikah, lalu berzina di sana, dia punya istri sakit, saya tahu persis kalau dia sudah berzina di sana".

Bitikwau menunjukkan sejenis tanaman rimpang untuk pengobatan yang banyak ditemukan di Kwau, Jumat (12/1/2018).
Bitikwau menunjukkan sejenis tanaman rimpang untuk pengobatan yang banyak ditemukan di Kwau, Jumat (12/1/2018).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Pertanyaan yang Bitikwau ajukan untuk memastikan bahwa pasiennya terkena rima-rima jauh dari sulit. Dia hanya mau tahu gej ala dari tubuh pasien yang dipandang di luar kebiasaan. "Kalau perut sakit dari matahari terbit sampai terbenam, atau kalau kencing sakit-sakit, itu berarti rima-rima," kata Bitikwau.

Hasil perabaan pun, katanya, menunjukkan simbol persenggamaan di bagian pusar. Dia melukiskan di daerah rabaan ada dua tanda seperti huruf V yang mewakili kaki mengangkang. Dua tanda itu berposisi tumpang-tindih.

"Saya pernah punya tamu yang mengeluh sakit dan saya bawa ke beliau (Bitikwau). Dia bilang tamu saya kena rima-rima. Saya sampaikan seperti itu kepada saya punya tamu, dan saya minta dia periksa kalau sudah di negaranya," kata Hans.

Bitikwau mengklaim telah menemukan tiga jenis obat untuk rima-rima. Semuanya tersedia di lingkungan Kampung Kwau. Dia menunjukkan dua dari tiga tanaman itu kepada Beritagar.id. satu diambil dari pinggir jalan desa, dan sejenis lagi dipetik dari halaman rumah tetangganya.

Bentuk kedua tumbuhan itu familier. Kemiripanny a dapat ditemukan di pulau-pulau lain. Pertama serupa pakis, hanya saja berdaun lebih kecil. Tanaman kedua mirip rumput teki. "Maaf, saya tidak ketemu yang ketiga," ujar Bitikwau. Langit nyaris kehabisan cahaya ketika dia berkata begitu. Bagi mata renta, kondisi itu jelas jadi soal.

Meski telah punya formula untuk menekuk rima-rima, Bitikwau menyatakan pengobatan amat bergantung pada fase ketika si pasien datang mengadu. Pasalnya, penyakit itu menggerogoti kekebalan tubuh, dan Bitikwau menyerah jika kondisi fisik si penderita sudah terlalu payah.

"Kalau belum menular, penyakit masih baru, masih bisa diselamatkan. Kalau sudah lama, kondisi manusia sudah buruk, tidak bisa lagi diobati," katanya.

Dua dari tiga tanaman yang penting dalam pengobatan rima-rima, istilah warga Kwau untuk HIV/AIDS.
Dua dari tiga tanaman yang penting dalam pengobatan rima-rima, istilah warga Kwau untuk HIV/AIDS.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

"Sulit untuk tidak percaya dengan kata-katanya," ujar Hans mengenai determinasi Bitikwau dalam menyodorkan diagnosis penyakit serta resep penawarnya. "Bayangkan. Tidak ada guru mengajar. Ilmu timbul begitu saja. Jari bisa tahu persis apa yang ada di dalam. Luar biasa," katanya.

Hans lalu mengisahkan sebuah kejadian yang melibatkan seorang kerabatnya yang datang menemui Bitikwau untuk deteksi penyakit. Setelah diraba, vonis jatuh bahwa sisa usia sang sanak takkan banyak. Selama-lamanya dua pekan.

"Masyarakat tidak percaya saudara saya akan segera habis nyawa. Dia lalu dibawa ke rumah sakit di Manokwari. Jawaban dokter sana sama. Saudara saya tidak akan selamat," ujar Hans. Kira-kira 14 hari setelah diagnosis Bitikwau, orang dimaksud men inggal.

Tapi, Bitikwau sejauh ini belum dapat melakukan terapi bagi pasangan yang datang untuk mencari jalan menuju kehamilan. "Tapi ada obat yang bisa bikin hilang rasa sakit saat melahirkan," ujar Bitikwau.

Ramuan tersebut terbuat dari tiga tumbuhan. Tanaman pertama berbentuk mirip buncis dan dinamakan buncis hutan. "Kita panggil tanaman itu kejutom," katanya. Tanaman kedua mirip bayam ungu. "Yang ketiga sebangsa ilalang," ujar Bitikwau.

Sebelum dipakai, semua tanaman ditumbuk jadi satu hingga halus. Jusnya diminum, dan ampasnya dibalurkan ke permukaan tubuh.

Bitikwau membagikan pengetahuannya dengan ringan saja, seperti pohon rambutan yang cuek meledakkan buah di awal tahun tanpa meminta bayaran. Sikap duduknya seteguh rumah kaki seribu khas Arfak, bangunan yang kini kian jarang ditemukan.

Dia selalu membuka pintu bagi siapa pun berniat mempelajari tanaman obat Kwau. Hans dan pamannya, Samuel Mandacan, termasuk orang y ang akhirnya menguasai tanaman obat. Namun, memang, ihwal raba-raba, tak satu pun dari mereka tersambar ilmu itu.

"Padahal, kalau sudah bisa ilmu raba-raba, sangat bagus sekali," kata Hans.

Bitikwau berjalan membuntuti istrinya ke arah rumah mereka di Kampung Kwau, Jumat (12/1/2018).
Bitikwau berjalan membuntuti istrinya ke arah rumah mereka di Kampung Kwau, Jumat (12/1/2018).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Ketika memandu saya dan fotografer, Wisnu Agung, ke puncak Gunung Kungoi yang berketinggian 2.500 meter DPL untuk mengambil kayu akway, Hans beberapa kali membocorkan khasiat beberapa tanaman yang kami temui di sepanjang setapak hutan.

Sayangnya, dia meminjam dari khazanah bahasa Hatam untuk menamai tanaman-tanaman itu. Ada daun untuk meredam batuk; daun penghilang pegal di persendian; daun pereda demam; tunas tanaman penawar racun; tumbuhan semacam pandanus yang bisa dipakai mengobati lumpuh.

Hans sempat memetik daun untuk batuk dan mengangsurkannya kepada saya demi melihat saya sering terkejang-kejang menerima efek gatal dari tenggorokan. "Om mesti kunyah ini," katanya. Anehnya, selama sehari semalam batuk itu hilang.

Dengan keahlian raba-raba, menurut Hans, seorang tabib bisa mengetahui apakah pasiennya sudah dalam kondisi sakit terminal atau belum. "Soalnya, dia bisa rasa itu penyakit berjalan ke mana," ujarnya.

Seturut pengalaman Bitikwau, pusar jadi pusat semesta tubuh. Parah atau tidaknya penyakit dilihat melalui posisinya dibandingkan dengan pusar.

"Kalau ada satu di sebelah kiri pusar, dan di kanan pusar kosong, tidak bisa meninggal," demikian Bitikwau mengenai peluang kesembuhan pasien. "Kalau sudah ada di kiri dan kanan, dan sejajar pusar, tinggal tunggu beberapa malam saja orang itu akan meninggal. Tapi, kalau masih ada di atas pusar sedikit, masih mungkin diobati," ujarnya.

Sebelah kiri, sejenis daun perdu yang berfaedah menghilangkan pegal-linu. Ketika ditempelkan ke kulit, duri-duri mikronya menyengat. Sebelah kanan, daun untuk meredam batuk.
Sebelah kiri, sejenis daun perdu yang berfaedah menghilangkan pegal-linu. Ketika ditempelkan ke kulit, duri-duri mikronya menyengat. Sebelah kanan, daun untuk meredam batuk.
© Wisnus Agung Prasetyo /Beritagar.id

Di ujung perbincangan dengan Bitikwau, saya memintanya untuk mempraktikkan ilmu raba-raba itu. Dia berkenan, dan meminta saya berbaring di tumpukan papan tempat kami duduk. Tidak ada rasa canggung seperti sengatan li strik atau suhu meningkat. Hanya ujung-ujung jari kasar akibat mengolah ladang. Dia dengan telaten mendesakkan jari-jari itu di perut saya, berputar melawan arah jarum jam.

Setelah sekitar dua menit, dia berhenti dan mengatakan ada "darah banyak" di perut saya. Saya tanya maksudnya kepada Hans, yang menjawab bahwa kalau kondisi itu dibiarkan saya bisa terkena malaria. Saya tidak tahu apakah itu artinya saya sudah kena tusukan nyamuk malaria, atau kondisi tubuh saya membuat saya rawan terjangkit malaria. "Sebelum om tambah parah, nanti kita kasih jamu. Saya punya itu di penginapan," ujar Hans.

Bonardo Maulana Wahono
  • Tamasya merekah di lereng Gunung Kelud Tamasya merekah di lereng Gunung Kelud
  • Agar khilafah berhenti berjaya Agar khilafah berhenti berjaya
  • Mendalami Islam dan pertanian di Pesantren Ath Thaariq Garut Mendalami Islam dan pertanian di Pesantren Ath Thaariq Garut
MUAT LAGI Sumber: Google News | Warta 24 Pegunungan Arfak

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »