WARTA 24 PAPUA BARAT

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Mengaku petugas BPK & peras bendahara kampung, seorang guru ...

Posted by On 20.41

Mengaku petugas BPK & peras bendahara kampung, seorang guru ...

Merdeka > Peristiwa Mengaku petugas BPK & peras bendahara kampung, seorang guru di sorong kena OTT Senin, 19 Februari 2018 11:39 Reporter : Rizky Andwika

Merdeka.com - Kepolisian Resor Sorong Selatan, Papua Barat menangkap seorang petugas Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) gadungan yang diduga melakukan pemerasan terhadap bendahara kampung pengelola dana desa.

Kabid Hubungan Masyarakat Polda Papua Barat AKBP Hary Supriyon o mengatakan, pria yang mengaku pegawai BPK tersebut berinisial AL. Aksi penipuan dan pemerasan dilakukan terhadap Yussi Atanay Bendahara Kampung Namro Kabupaten Sorong Selatan.

"Pelaku ditangkap Minggu malam sekitar pukul 21.45 Wit dalam operasi tangkap tangan atau OTT yang dilaksanakan oleh tim Sat Reskrim, Bhabinkamtibmas Desa Namru dan anggota Sat Intelkam Polres Sorsel," kata Hary seperti dilansir Antara, Senin (19/2).

Dalam aksinya, AL yang berprofesi sebagai guru berstatus PNS tersebut mengaku sebagai pegawai BPK dan meminta uang bendahara kampung Namro.

"Pelaku ditangkap saat melancarkan aksi di depan sebuah toko di Kampung Wermit, Distrik Teminabuan. Saat ini sudah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut," ujarnya lagi.

Pada operasi ini, polisi menyita barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 14,4 juta diduga hasil pemerasan di Kampung Namro, uang sebesar Rp 1.050.000 diduga hasil pemerasan dari Kampung Mugim. Polisi jug a menyita kwitansi uang ganti rugi kas negara dari bendahara Kampung Namro senilai Rp 15 juta, buku Tabungan Bank Papua pelaku, handphone Nokia, Id Card Intelijen BPKP - NKRI, ATM serta kartu identitas pelaku.

Hary menjelaskan, dalam kasus ini pelaku mengaku sebagai petugas BPKP RI. AL menakuti korban dengan memberikan informasi bahwa ada temuan dalam pengelolaan dana desa tahun 2016 di Kampung Namru.

Dari temuan tersebut, pelaku meminta korban mengembalikan anggaran ke kas negara melalui melalui dirinya. Dengan demikian kasusnya tuntas dan tidak berlanjut ke proses hukum.

"Awalnya pelaku menghubungi korban dan menjelaskan perihal temuan BPKRI. Lalu, janjian untuk ketemu di sebuah rumah makan guna menuntas hasil temuan tersebut," sebutnya pula.

Menurut pelaku, ujarnya menambahkan, pada tahun 2016 ada temuan sebesar Rp. 112.000.000 pada pengelolaan dana desa di kampung tersebut. Selanjutnya, ganti rugi bisa diberikan setengah, seperempat atau sepertiga dari temuan tersebut.

Sadar dirinya menjadi sasaran, korban pun langsung berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas Kamp Namro. Hingga akhirnya, polisi berhasil membekuk pelaku saat melancarkan aksinya itu. [rzk]


Topik berita Terkait:
  1. Kasus Pemerasan
  2. Sorong Selatan
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini
  • Pakar : Program 'Mas Metal' Gus Ipul-Puti, dapat menjawab masalah urbanisasi di Jatim

  • Ridwan Kamil: Saya tegaskan sekali lagi, saya tidak mendukung perilaku LGBT

  • Gus Ipul: Program Tebar Jala akan perhatikan kearifan lokal

Rekomendasi

Sumber: Google News | Warta 24 Kabupaten Sorong

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »